Universitas Widya Kartika KKN-PPM di Pondok Pesantren Sunan Drajat

Diposkan oleh Jun Setyawan on Saturday, 5 April 2014


Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh selama kuliah untuk membantu permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Maka, sebuah kebanggan tersendiri ketika masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat keberadaan mereka.
Universitas Widya Kartika (Uwika) kembali menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) – Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di awal tahun 2014 yang diikuti kurang lebih 150 mahasiswa UWIKA dari Fakultas Bahasa dan Sastra, Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi.
Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan MOU antara UWIKA dan Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan pada 24 Mei 2013, maka KKN tahun ini dilaksanakan di Ponpes Sunan Drajat di Desa Banjaranyar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan selama tiga hari, 14-16 Februari 2014.
Rombongan UWIKA yang dipimpin oleh Rektor Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si. disambut langsung oleh Pengasuh Ponpes Sunan Drajat,  Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur dan disuguhi penampilan hadrah dan barongsai dari santri-santri Ponpes Sunan Drajat.
Berbagai pengalaman ‘mengejutkan’ dialami para peserta KKN selama mereka berbaur dengan para santri Ponpes Sunan Drajat. “ Ternyata pemahaman saya tentang Pondok Pesantren selama ini salah. Saya kira disini hanya sekolah dan mengaji saja. Ternyata para santri bisa belajar manajemen berikut pengelolaan bisnis. “ kata Liang Yohanna, mahasiswi Prodi bahasa Mandarin. Yohanna mendapat pengalaman baru lagi ketika beristirahat. Mereka malam itu tidak tidur di kamar dengan kasur empuk seperti di rumah masing-masing. Para peserta KKN harus tidur hanya beralaskan tikar atau plastik bekas spanduk dan sebagian karpet, tanpa bantal dan guling berbaur bersama para santri Ponpes. Para mahasiswa bukan hanya KKN-PPM, tetapi mereka juga benar-benar menjalani ‘Live-In’ yang sesungguhnya.
Ada lima program pada KKN tahun ini yaitu manajemen usaha, kependidikan, bina lingkungan, Sumber Daya Manusia (SDM) , dan Informasi & Komunikasi (Infokom). Terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman selama KKN berlangsung. Mahasiswa dan mahasiswi UWIKA memberi pelajaran sesuai dengan bidang study masing-masing. Seperti halnya Yohanna yang memberikan pelajaran bahasa Mandarin dan memperkenalkan budaya Cina. “ Saya kebagian memperkenalkan bahasa Mandarin dan seni tali temali asal China (zhongguojie) ke teman-teman di pondok. “ lanjut Yohanna.
Anita, mahasiswi Teknik Arsitektur juga terkesan dengan KKN tahun ini yang diselenggarakan di Ponpes Sunan Drajat. “ Hebat sekali pondok ini karena punya beberapa perusahaan yang menjadi sayap bisnis ponpes. Ada air minum dalam kemasan, swalayan, radio dan televisi Persada, perusahaan batu gamping, travel umroh, industri garam, perkebunan dan masih banyak lagi. “ ujarnya. Kekaguman Anita dan mahasiswa lainnya pada ponpes bertambah tatkala menemukan ada ekstra kurikuler barongsai dan liong-liong untuk para santri, disamping hadrah dan band. Mereka menemukan pluralisme kebudayaan disini.
Seorang santriwati Madrasah Aliyah (MA), Umi Marifah senang menerima pengalaman baru dari kakak-kakak UWIKA. “ Saya jadi termotivasi ingin meneruskan kuliah di UWIKA. Apalagi UWIKA merupakan kampus pertama di Jawa Timur yang membuka jurusan Bahasa Mandarin. Saya ingin menjadi ahli bahasa mandarin. “ kata Umi seraya melanjutkan seni tali temali Cina.

Rektor UWIKA, Dr. Murpin Josua Sembiring,S.E., M. Si. sengaja membawa mahasiswa UWIKA untuk KKN di Ponpes Sunan Drajat karena ingin menanamkan nilai kepribadian nasionalisme kepada mahasiswanya. Beliau mengingatkan, ponpes dulunya adalah salah satu titik perlawanan terhadap penjajahan. Dari KKN di Ponpes, hasilnya akan juga digunakan pijakan untuk mengevaluasi kurikulum di kampus.
Pengasuh Ponpes Sunan Drajat yang juga mantan pengajar di Politeknik Unibraw Malang, Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur menyebut ponpes yang diasuhnya merupakan salah satu yang tertua di Indonesia dan satu-satunya ponpes peninggalan Sunan-sunan yang masih berdiri di Indonesia.  Kiai Ghofur mengatakan bahwa pondoknya terbuka untuk siapa saja, bahkan banyak tokoh-tokoh agama lain seperti Hindu dan Budha sempat singgah ke pondoknya. “Melalui tokoh-tokoh  agama ini, saya ingin menunjukkan kebaikan agar ditiru bahwa semua agama itu dari Tuhan oleh karena itu kita harus saling menjaga kerukunan antar umat beragama, tutupnya. 
Read More Universitas Widya Kartika KKN-PPM di Pondok Pesantren Sunan Drajat

Komik : Demokrasi Yang Fari Play

Diposkan oleh Jun Setyawan on Thursday, 3 April 2014

















Demokrasi Yang Fair Play, oke, langsung ja dech simak baik-baik komik di atas karya mas Aji Prasetyo

Read More Komik : Demokrasi Yang Fari Play

Cerita Dalam Perjalanan

Diposkan oleh Jun Setyawan on Saturday, 29 March 2014

Seorang pemuda terpelajar sedang bepergian dengan naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta. Di kursi sampingnya duduklah seorang ibu separuh baya dengan pakaian sederhana. Untuk memecahkan keheningan, si pemuda menyapa dan mengajak ibu itu ngobrol.


“Ibu, ada acara apa ke Jakarta?” 

“Oh, saya ke Jakarta untuk “connecting flight” ke Singapura, dik. Mau menengok anak saya yang kedua. Dia bekerja di sana” jawab si Ibu.

“Wah, hebat sekali putra ibu” Karena rasa ingin tahu yang besar, si pemuda mulai mengorek informasi lebih dalam tentang ibu dan keluarganya itu.


“Kalau saya tidak salah dengar, anak yang di Singapura itu anak kedua ya, Bu? Lalu di mana dengan kakak dan adik-adiknya?”

“Oh ya, anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat bekerja di perkebunan di Lampung. Yang kelima arsitek di Jakarta. Yang keenam menjadi kepala cabang bank nasional di Purwokerto dan yang ketujuh menjadi dosen di sebuah PT terkemuka di Semarang” jelas sang ibu.

Pemuda itu benar-benar takjub, bagaimana sang ibu bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.

Tapi pemuda itu kemudian bertanya, “Lho, yang pertama di mana bu?”

Sambil menghela nafas panjang, si ibu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, Nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar” jawab ibu dengan mata yang menerawang.

“Eh, maaf bu ya, sepertinya ibu agak kecewa dengan anak yang pertama. Karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia hanya seorang petani”

Lebih takjub lagi sang pemuda ketika mendengar jawaban sang ibu… dengan tersenyum ibu itu menjawab,

“Oooh, tidak begitu nak, justru saya PALING BANGGA dengan anak pertama saya. Karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani, dia pula yang memotivasi adik-adiknya untuk terus berprestasi di pendidikannya hingga dapat meraih beasiswa ke pendidikan tinggi”

Pemuda itu terbengong….

Sahabat, semua orang di dunia ini begitu penting, apapun posisinya. Kadang seseorang yang terlihat remeh ternyata memiliki sesuatu yang luar biasa, jasa yang amat menentukan yang kadang di luar dugaan kita….

Maka, yang paling penting bukanlah SIAPAKAH KAMU? tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN

Read More Cerita Dalam Perjalanan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...